“Mengenal Sejarah Suku Yeinan di Kawasan Taman Nasional Wasur, Merauke Beserta Tempat-Tempat Penting Bagi Kehidupan Mereka”.


Bismillah

Tulisan ini dibuat oleh Alm Kakak aku, untuk buletin Wasur, Merauke, Papua.

“Mengenal Sejarah Suku Yeinan di Kawasan Taman Nasional Wasur, Merauke Beserta Tempat-Tempat Penting Bagi Kehidupan Mereka”.

Oleh : D S Rachmat, S.Hut*)

 Penduduk asli yang menghuni Taman Nasional berasal dari 4 (empat) suku yaitu Suku Kanum, Suku Marori Men-Gey, Suku Marind dan Suku Yeinan. Saat ini berdasarkan data yang diperoleh masyarakat Yeinan menghuni 4 kampung yaitu di kampung Erambu sebanyak 280 jiwa, di kampung Toray 290 jiwa, di kampung Poo 384 jiwa dan di kampung Sota sebanyak 222 jiwa. Adapun mata pencaharian utamanya adalah sebagai petani.

 Berikut ini saya akan menceritakan peta perjalanan leluhur suku Yeinan yang diperoleh dari cerita versi orang Yeinan, sejarah/cerita terbentuknya suku Yeinan berawal dari kedatangan manusia dari arah timur. Menurut mereka, nenek moyang suku Yeinan datang dari arah timur dan masuk melalui satu wilayah yang bernama Celuk. Ditempat inilah nenek moyang orang Yeinan mulai mengenal pakaian/penutup badan.

Dari Celuk selanjutnya nenek moyang suku Yeinan melakukan perjalanan, sampailah mereka pada sebuah tempat yang dinamakan Barki. Dari Barki sebagian manusia tersebut menetap dan sebagian lainnya melanjutkan perjalanan dan sampailah mereka ke sebuah tempat yang mereka sebut Kalau, tempat ini berada disekitar sungai Obat. Ditempat inilah kemudian mereka tinggal dan membentuk suatu komunitas . Mereka memilih daerah di dekat sungat obat untuk dijadikan tempat tinggal karena menganggap tempat tersebut sangat strategis, berada agak jauh dari sungai Maro (sungai terbesar di Merauke). Selain itu disekitar sungai Obat juga terdapat banyak persediaan bahan makanan.

Melihat jumlah komunitas mereka yang semakin bertambah, akhirnya sebagian dari orang Yeinan memutuskan untuk mencari tempat baru lagi, terutama yang mempunyai persediaan bahan makanan yang mencukupi. Pada masa penjelajahan tersebut, mereka menyusuri kali Maro ke arah hulu untuk mencari sumber makanan yang lebih melimpah, maka sampailah pada suatu tempat yang bernama Udub. Orang – orang yang bukan dari komunitas Yeinan yang mendiami wilayah tersebut sebelumnnya, akhirnya melarikan diri kearah utara. Dirasa wialayah mencari makan mereka sudah cukup luas, merekapun memutuskan untuk kembali ke Kalau.

Suatu ketika moyang masyarakat Yeinan akan melakukan perjalanan ke wilayah Udub kembali, mereka berencana akan melaksanakan upacara adat guna penyembuhan anak laki-laki yang sakit akibat digigit oleh ular. Mereka menyusuri sungai Obat dengan menggunakan perahu yang sebelumnya sudah dibuat disuatu tempat yang bernama Akeketer. Rombangan ini terdiri dari beberapa orang, mereka terus menyusuri kali dan melaui tempat-tempat yang disebut Camu. Dari camu mereka menyusuri sungai kecil sampai di daerah Brabtau yang berada disekitar Barki.

 Di tempat tersebut mereka singgah untuk beristirahat dan meminum air. Melihat kondisi anak laki-laki yang senakin parah, mereka kemudian melanjutkan perjalanan melalui Celbi/arwar-kaberter hingga sampai ke sungai Palda. Dari palda rombongan menuju sungai Salob menuju ke muara dan terus menyusuri sungai Maro kearah hulu sampailah mereka di Udub. Setelah sampai di Udub, maka rombongan pun melakukan proses ritual untuk proses kesembuhan anak leleki tersebut. Ritualpun selesai, merekapun kembali menyusuri kali Maro kemudian sungai Keo, sungai put hingga kembali ke Palda. Dari Palda mereka melewati Gulmi, sedangkan kondisi anak lelaki itu bukannya sembuh, tapi sakitnya semakin parah. Akhirnya saat perjalanan dari Gulmi dan Kaberter nyawa anak lelaki itupun tak tertolong, akhirnya anak itupun meninggal dunia.

Setelah bemusyawarah maka disepakati bahwa jasad anak tersebut akan dikuburkan di Kaberter. Namun, untuk kesekian kalinya rombongan tersebut kembali melakukan ritual-ritual, mereka berharap anak lelaki yang telah meninggal tersebut bisa hidup kembali. Mitos kebangkitan anak lelaki tersebut sangat dipercayai oleh orang Yeinan sampai sekarang, bahwa suatu saat anak lelaki tersebut akan bangkit kembali. Orang Yeinan percaya bahwa anak lelaki tersebut akan menjelma menjadi seorang ”Dema/Tuan tanah” yaitu yang berwujud setengah manusia.

Setelah kematian anak tersebut dan dipercaya akan kebangkitannya, komunitas Yeinan di sungai Obat semakin bertambah. Tempat-tempat sekarang yang banyak di diami orang Yeinan dari arah hulu kali Maro adalah Kampung Kweel, Kampung Tanas dan Kampung Bupul dan disekitar sungai Obat adalah Kampung Erambu, Kampung Toray dan Kampung Poo.

Sampai saat ini ada beberapa daerah yang dianggap sakral oleh suku Yeinan yaitu :

  1. 1.     Kwaip/Kakayu

Adalah tempat yang dianggap nenek moyang orang Yeinan yang bernama Cawud memprediksikan bahwa akan ada suatu penyakit yang berbahaya bagi masyarakat dan akan datang orang asing yang berambut lurus kedaerah mereka.

  1. 2.     Wakumbak/alipay/Takwar

Diyakini sebagai tempat pendaratan perahu orang Yeinan yang pertama kalinya, dan diyakini bahwa kelahiran sampai kebangkitan akan dilalui di tempat ini.

  1. 3.     Brabtau

Adalah tempat yang diyakini oleh  Yeinan bahwa nenek moyangnya zaman dahulu singgah untuk minum air dalam perjalanan menuju tempat untuk melaksanakan ritual guna penyembuhan penyakit seorang anak laki-laki.

  1. 4.     Alilitir/Kagon

Tempat yang diyakini oleh orang Yeinan sebagi tempat diciptakannya burung Rajawali.

  1. 5.     Grar/Caluk

Adalah tempat yang diyakini sebagai pintu masuk orang Yeinan

  1. 6.     Wawal/Parpe

Tempat yang diyakini sebagai tempat pemukiman pertama orang Yeinan.

  1. 7.     Salob

Adalah tempat penyimpanan benda-benda sakral oran Yeinan.

  1. 8.     Palda/Sabal-sabal

Adalah tempat terciptanya lagu perahu

  1. 9.     Akekater

Yaitu tempat yang dianggap  orang Yeinan pertama kali membuat perahu.

Demikianlah cerita singkat yang saya dapatkan dari orang Yeinan sebagai salah satu suku pemegang hak ulayat di kawasan taman nasional Wasur, walaupun dari segi cerita sangat susah dibuktikannya namun setidaknya bisa memeberikan informasi dan gambaran bahwa Suku Yeinan masih mempunyai daerah sakral yang dianggap penting bagi kehidupan mereka, sehingga adanya perlakuan khusus dari mereka terhadap tempat-tempat tersebut. Dengan adanya tempat-tempat yang dianggap sakral, orang Yeinan akan memperlakukan tempat tersebut secara arif dan akan senantiasa menjaga kelestariannya.

*)Calon PEH BTN Wasur

**diambil dari berbagai sumber

One thought on ““Mengenal Sejarah Suku Yeinan di Kawasan Taman Nasional Wasur, Merauke Beserta Tempat-Tempat Penting Bagi Kehidupan Mereka”.

  1. Aslmkm
    Sy tdk menyangka tulisan Alm.Dani akn ada yg memuatnya di web. Dan tyata adik Alm sndri yg memuatnya.
    Oya, salam kenal. Sy tmn seangkatan kerja alm di tn wasur. Skrg msh di tn wasur.
    Apa kabarnya keluarga dsana? Smg sll dlm lindungan & limpahan rahmat dr Allah Swt.
    Sosok Alm.Dani yg sy ingat swaktu hidup bsama d merauke adl sosok yg pendiam, bsemangat, suka mbantu, tdk pnh mengeluh, ramah & religius. Doa sy, smoga Alm.Dani mdptkn tmpat tbaik Di Sisi Allah Swt & dtrima smua amal kbaikannya slama hidup oleh Allah Swt, Amiin.
    Thn 2013 silam Balai TN Wasur mengadakan kegiatan Penandaan Batas Zonasi, tmasuk diantaranya penandaan Batas Zona Sakral. Klo tdk slh ingat, hsl dr survey tsb mmg ada bbrp Zona Sakral yg namanya mirip/sama dg yg dtuliskn oleh Alm.
    Zona Sakral/tempat penting di dlm hutan Papua khususnya Merauke mmg betul ada meskipun kita awam tdk tau letak & batas tepatnya. Namun dr bbagai crita orang di Merauke, orang yg masuk daerah/zona sakral tanpa spengetahuan tuan dusun/ahli waris tuan tanahnya kdg tdk bs kembali pulang. Klo ingin menemui org yg hlg tsb hrs sgra mhubungi tuan dusun/pemilik ulayat daerah sakral tsb. Akan tetapi klo orang niat jahat masuk hutan mgk mau berburu, menebang pohon tanpa izin & hal lain yg mlanggar aturan adat maka bs saja orng tsb betul2 hilang di dlm hutan.
    Jadi klo masuk hutan di Papua sbaiknya beregu/berkelompok, jgn lupa ajak Tuan Dusun/pemilik ulayat, & yg lbh penting jgn lupa slalu bdoa & zikir kpd Allah Swt.
    Salut & Hebat bwt tulisan Kang Dani (sebutan akrab Alm oleh tmn2 seangkatannya) krn mampu menguraikan scr runtut, gamblang, & jelas.
    Smoga tulisan Alm bmanfaat bg sapa pun yg mbutuhkannya, khususnya bagi sapapun yg akn masuk hutan milik ulayat suku Yeinan agr sbaiknya dperhatikn dimana letak daerah2 sakral tsb, krn setau sy ada daerah sakral yg tdk perkenankan dimasuki/dilewati oleh suku pendatang/suku non Papua.
    Wslmkm
    Eka Heryadi
    Penyuluh Kehutanan Balai TN Wasur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s