Dedicated for My Beloved Brother: Sepenggal Kisah Perjalanan Masa Lalu


Ingin sekali aku nulis setelah sekian lama bikin tulisan-tulisan teu mutu, atau vakum menulis nu bermakna dan memiliki hikmah yang bisa aku bagikan di catatan blogku buat kenang-kenangan. siapa tau di masa depan aku juga ngga ada di dunia, jadi kalian semua bisa membaca pikiranku lewat catatan-catatan kecilku di media elektronik ini.

 

Bismillah

Entah harus memulai darimana, yang jelas setelah menangis dan menyesali masa lalu yang ngga mungkin kembali, aku sangat terkenang akan osok aa; kakak laki-laki aku yang sangat aku kagumi, sosok yang menjadi panutanku sekaligus orang yang kadang bikin aku jengkel lantaran aku pikir selalu meminta bantuan orang lain saat dia sendiri ragu akan dirinya sendiri, ragu akan kemampuan jalan takdirnya. padahal sekarang; aku rela berbuat apa saja yang baik buat dia asal dia kembali hadir di tengah-tengah kami semua, terutama buat ibu sama bapak yang semakin tua digerbang usia mereka yang ngga lagi muda.

 

AA, satu-satunya anak laki-laki di keluarga kami, sosok kebanggaan keluarga dan anak sulung yang baik, shaleh, bertanggung jawab, pendiam, pekerja keras… pokonya semua sifat baik yang ada didunia ini ada padanya, dan beberapa sifat buruk juga yang masih kalah sama kebaikannya. kami ngga nyangka usianya begitu muda; begitu singkat sampai dia dipanggil yang Maha Kuasa karena sakit diantara tugas-tugasnya di Merauke selama 4 bulan, yang membuatnya terbaring ngga berdaya. Bahkan saat puasa dan lebaran kemarinpun, dia masih hadir di antara kami semua… Meski dalam keadaan sangat tidak sehat, tapi ada aa; jasad dan ruhnya yang masih bisa diajak berkomunikasi di dunia nyata. Ada sosok seorang kakak yang setiap harinya kami harapkan kesembuhan dan kemajuan kesehatannya; yang aku sendiri harapkan dia bisa terus berkarya dan berkontribusi buat menularkan ilmunya serta agamanya. yang bisa membangun keluarga kecil sakinah mawadah warahmah dengan gadis yang secara ngga langsung aku dan temanku kenalkan untuk Aa…

 

Sungguh… waktu 31tahun, nyaris menyentuh angka 32 itu tidaklah lama. sebentar. tapi kita ngga sadar kapan maut akan menjemput. kami adalah saksi hidup, betapa perjalanan hidup aa ngga semudah yang dibayangkan orang. dia hebat dengan segala potensi diri dan agamanya yang bagus, malahan aku berpikir dialah penerus alm. kakek, nyatanya Allah SWT berkehendak lain. dia dengan perjuangan semasa hidupnya yang ngga mudah, banyak kegagalan dilaluinya, banyak cobaan yang menghampirinya saat dia tengah merasakan nikmatnya perjuangan, sampai beberapa insiden yang kami tahu bikin aku nangis dan berpikir kenapa justru orang shaleh dapet cobaan begitu berat sampai kemarin menjelang ajal menjemputnya; aa tengah berada dalam masa keemasan, saat dia menikmati dan mencintai pekerjaannya. saat gerbang pernikahan belum masuk genap 1 tahun, saat dia belum memiliki sang junior penerus perjuangannya kelak, saat… ah~

 

kami semua sayang aa…

sayaaaaanggg sama aa…..

tapi Allah SWT lebih sayang aa…

 

aa bilang,… sudah ada kelambu putih dengan taburan bunga warna warni di sana, banyak orang menyambut dan bersiap-siap. Allah menyambut kembalinya hamba-Nya ke pelukannya. Kami semua menangisi kepergian Aa karena aa orang yang sangat diharapkan di lingkungan kami, orang yang memberikan banyak manfaat dan kebaikan bagi kami semua.

 

banyak peninggalan yang aku pakai buat ngenang alm.aa. aa,… aku pakai barang aa insya allah untuk ibadah… insya allah aku selalu mendoakan aa… semoga kelak amih mendapat pengganti aa lewat aku… amin….

 

January, 17th 1981- November, 11th 2012

-DANI SUPRIADI R.-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s