Sambungan GepengMen: Cerita Seorang Uloh


Menyenangkan. Kata itulah yang tergambar dibenak ini begitu turun dari angkutan umum Deborah sampe kosan. Yah~ setelah minggu lalu termenung mendengarkan kisah sopir asdir yang membuat aku berpikir; kini aku mendapat kesempatan lagi buat ngobrol sama anak jalanan yang kebetulan ngamen dan setempat duduk denganku.
Tapi ngomong-ngomong ah asa caranggung kitu bahasana meni resmi. oke deh kita  mulai aja ngebolg-nya, menumpahkan inspirasi yang minuhan kepala sehabis banyak tragedi di hari ini T^T.

Bismillah…

Ini kisah aku sepulang dari daerah Pondok Cabe. Dimana aku ngobrol2 sama seorang pengamen cilik yang ramah dan lucu… Awalnya aku kurang begitu tertarik sama anak kecil anu ujug2 naek kana beus deket Detos dan nyanyi2 lagu apa ya lupa, oya D’Massiv yang judulnya JANGAN MENYERAH. Keur puasa meureunnya, jangan menyerah. Kagok maghrib keudeung deui. akakak… tapi itu bocah nyanyi aja terus dengan lantang meski kata Agnes banyak PICHI-PICHI-nya, trus nada dasarnya teu konsisten, tapi secara tempo sama suara sih lumayan ceuk akumah. Nah, lila-lila aku mikir: ini anak puasa2 hebat ya gogorowokan. Ngga abis itu suaranya. Ngga kering itu tikorona. Meski dalam beberapa bulan kebelakang aku juga pernah nulis mengenai fenomena GEPENGMEN yang didalamnya aku kurang setuju buat ngasih langsung bantuan duit (meski serebu duarebu) ke mereka, toh ini kan ramadhan. dan belum tentu kita ketemu setiap minggu. jadi ya udah kasihhhh~.

Dari pas tuh anak berhenti nyanyi n duduk di bangku paling jolok ditukang (kehalangin seorang dari aku, dan kamu pasti tau gimana anatomi beus tiluparapat jok pangbelakangna), dari sana pengen banget aku ajak ngobrol tuh bocah. nanya2 apa dia sekolah, kelas berapa dia, dll dll deh. Tapi dasar jelema eraan dan COOL, cicing we aku teh sambil curi-curi pandang ke itu bocah. Hingga akhirnya tuh anak pindah ke deket pintu keluar bus n otomatis duduk deket aku, lalu dia nyengir lucu. Nah dari sana aku mulai berani nanya-nanya. Namanya Muhammad Hidayatullah, atau katanya biasa dipanggil Dayat ato uloh. hehehe… Dari sana obrolan kita mengalir. Bak kakak ketemu adik dijalan. Hahahaha….

Ilustrasi Pengamen Cilik

Untungnya Uloh ngga seperti kebanyakan pengamen cilik yang sering aku temui pas jam sekolah (artinya mereka teu sakola). Uloh ini kelas 2 SD dan dia sekolah pagi hari, siangnya baru ngamen (khusus bulan puasa aja katanya). Aku nanya-nanya juga masalah keluarganya. Bo ternyata sodaranya cowok semua, jumlahnya 4! Wiwww subur. Tapi yang sedih dari bagian ini adalah; kakaknya meninggal satu orang karena kena penyakit tifus dan ngga tertolong pas umur 4 tahun. Dan kakaknya satu lagi, dia sekolah sambil ngojeg. Tapi yang bikin aku syok, aku kira kakaknya SMP kelas 2 sampe SMA lah range umurnya (soalnya profesi ojeg identik dengan bapak2/ mas2), tapi subhanallah innalillahi, kakaknya itu KELAS 5! Coba bayangkan, diusia sekecil itu mereka juga harus mengalami kerasnya hidup, mengerti kesulitan ekonomi orang tuanya yang kebetulan ayah Uloh adalah tukang becak dan ibunya di rumah. Aku diem dong, aduhhh ya allah~ selama ini aku banyak ngeluh lantaran ini itu ini itu,… tapi ternyata pas banyak-banyak ngobrol sama orang-orang seperti Uloh atau anak penjaja Payung yang kutemui di terminal Caheum bikin aku mikir; dunia ini terlalu indah jika dinikmati sendirian. ekekek…

Dan Uloh atau Uloh-Uloh lain tak bisa disalahkan dalam kasus ini ketika mereka mencoba peruntungan di dunia tarik suara dari angkot ke angkot, beus ke beus, kereta ke kereta. dll. dll. Mungkin dan pasti, Uloh adalah satu diantara sekian banyak anak yang memiliki kepekaan tinggi terhadap kesulitan ekonomi yang dihadapi orang tuanya sehingga dia rela berkorban dan melepaskan masa kecil bahagianya untuk hanya dapat bermain dan belajar dengan rekan sebayanya, yang dia tukar dengan menjelajahi setiap sudut keramaian, dimana banyak kumpulan orang yang kemudian dia dendangkan lagu2 dengan harapan imbalan sedikit rupiah demi membantu kedua orang tuanya.

Sumpah dari sana aku jadi pengen ngacak2 rambut Uloh sambil berucap ala LI YONG JAY di film FULL HOUSE *SEMAGATTT!!!*. Tapi ya keur na beus. Jiga naon wae. ekekek… Dari sana aku mikir. bahwa Uloh, dan rekan2 pengamen cilik lainnya itu berhak mencari nafkah dengan jalan ini selama masih halal dan tidak nyerempet ke tindak kriminal. Uloh dan Uloh-Uloh yang lain berhak mengais rezeki lewat sumbagsih lagu dan suara emas anak2 yang mereka miliki. Tak ada yang salah dengan memberi. Hanya saja yang salah itu adalah ketika pemberian seseorang disalah gunakan pemakaiannya. Wallahu alam.

Buat Uloh, kalo nemu blog aku. TETAP SEMANGAT!!!

Hidup adalah potongan-potongan episode perjuangan yang mengharuskan kamu menggenapi hal yang ingin kamu tuju dan menukarnya dengan apa yang kamu miliki. Ketika kamu ingin mencapainya kamu harus berlari. Ketika kamu tidak punya kaki, kamu masih bisa merangkak atau bahkan merayap. Ketika kamu tidak punya mata kamu bisa berjalan sambil meraba. Bahkan ketika kamu tidak punya kedua kaki dan kedua tangapun, kamu bisa berpikir. Tapi ketika kamu tidak mau berpikir, kehidupanmu mati.

Salam_timberlake

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s