Fenomena Sosial GEPENG MEN: Gelandangan, Pengamen dan Pengemis


Dari kemarin pengen blogging buat ngebahas hal ini, baru sekarang keingetan n menyempatkan waktu buat menuangkan opini pribadi di blog. mari kita mulai menulis.

Bismillah

Banyak pengalaman yang mungkin bikin aku kurang nyaman sama tempat-tempat umum yang memungkinkan akses hal-hal yang bisa mengganggu kenyamanan kita melakukan sesuatu. Mulai dari tukang dagang yang lalu lalang n sering aku temui di bus pas mudik (nawarin dagangannya sampe maksa2 gitu, lagi mau tidur. bikin sebel), pengamen yang pas kemaren aku lagi jajan di pasar ada sampe 5 pengamen dalam rentang waktu 10 menit (malahan pas ada yang emang beneran ngamen aku kasih, eh sebelah aku nyolek minta duit padahal suara lagunya kagak aku denger -___-‘ #cape deh, sampe yang berani banget ngebangunin di pom bensin pas lagi beneran tidur cuma buat minta duit yang lagunya ga aku nikmati. euhhhh hayang nakol ku panakol bedug!!!), pencurian di area terbuka n tempat-tempat umum, gelandangan yang bertebaran di tempat-tempat rame, sampe pengemis; dari yang mash anak-anak sampe yang udah aki-aki menjadi permasalahan sosial yang menjadi peer pemerintah dan belum bisa teratasi dan bahkan mungkin tidak akan pernah teratasi. wallahu alam bisawwab.

padahal dalam UUD 1945 Pasal 34 disebutkan bahwa: “Fakir miskin dan anak-anakyang terlantar dipelihara oleh negara“. akan tapi mungkin untuk saat ini, realisasi dari isi pasal tersebut belum bisa diimplementasikan dengan baik sehingga dampak sosial dari hal tersebut masih jauh dari harapan dan cita-cita luhur UUD 1945 tersebut. bayangkan saja, dari sumber TRIBUNNEWS.COM disebutkan bahwa jumlah penduduk miskin, atau penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan dibawah garis kemiskinan di Indonesia hingga Maret 2010, mencapai angka 31,02 juta jiwa, atau 13,33 persen. Angka tersebut dinilai turun sekitar 1,51 juta jiwa dibandingkan tahun 2009 yang berjumlah 32,53 juta (14,15 persen). Hal itu disampaikan Rusman Heriawan, Kepala Badan Pusat Statistik RI di Kantor BPS, Jakarta. Kamis (1/7/2010).

gelandangan

Pembersihan Kota Jakarta dari GEPENGMEN oleh Satpol PP dan Trantib

dari fenomena di atas, tentu saja kemiskinan negara kita itu dipengaruhi oleh berbagai faktor. misalnya pendidikan, kebudayaan, kesehatan, kondisi perekonomian, dll. dari berbagai faktor tersebut tentunya saling berhubungan satu sama lain, misalnya ketika tingkat ekonomi seseorang dikatakan kurang, otomatis jenjang pendidikan yang dia tempuh akan rendah karena kekurangan biaya (masalah klasik ini –‘), bersambung pada keadaan lingkungannya yang kurang sehingga kondisi kesehatannya kurang diperhatikan (penyakit, sanitasi, kebersihan, makanan, dll), pekerjaan yang kurang mapan karena tingkat pendidikan yang tidak memenuhi kriteria, kompetensi dan kualifikasi zaman sekarang yang otomatis berimbas pada kondisi ekonomi kehidupannya ke depan, dll. otomatis, dengan banyaknya permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat kita memunculkan alternatif lain di masyarakat kurang baik menimbulkan dampak lain, yakni tumbuhnya komunitas GEPENG MEN (gelandagan dan pengemis, dan pengamen). bahkan melalui berbagai media yang aku baca, lihat dan amati, ternyata beberapa di antara mereka diorganisir dengan baik.

pengemis

Pengemis Tua Di Pinggir Jalan

dari sumber ini, dikatakan bahwa penghasilan yang didapat satu orang pengemis per hari bisa mencapai Rp 280 ribu!!!Katanya, pendapatan mengemis di DKI Jakarta paling kecil pendapatan Rp 30 ribu. Menurut ketua satpol PP-nya sendiri, angka tersebut sangat fantastis jika dikalikan dengan jumlah pengemis yang diorganisir oleh orang tertentu.

                       Gambar Pengamen cilik

Pengamen Cilik

tentu saja hal ini berbahaya pada pembangunan karakter bangsa ke depannya. kenapa? karena fenomena GEPENG MEN ini seolah menular dan menjadi penyakit berbahaya sekaligus menggiurkan dari pekerjaan yang dilakukan. bayangkan, tanpa perlu bersusah payah memeras otak dan tenaga berlebih buat menghasilkan pundi-pundi rupiah, mereka yang berprofesi di atas hanya tinggal menunggu belas kasihan orang untuk memberikan mereka yang atas hal yang tidak mereka lakukan (kecuali mungkin pengamen yang menjual jasa suara dan permainan alat musik, tapi banyak pengamen abal-abal yang ngga berkualitas dan malah bikin sebel mungkin). kalau misalnya ambil kecilnya penghasilan perhari Rp.30.000 x 30 hari = Rp.900.000 (wow) hanya dengan menunggu orang ngasih. bisa sambil duduk, jalan2, atau bahkan apapun. hhe. apalagi buat yang berpenghasilan taruh lah Rp.100.000 x 30 hari = 3.000.000 (FANTASTIS). Nyaingin gaji setara PNS malahan!!! belum yang Rp.280.000 x 30 hari =bisa kamu kalikan sendiri Rp.8.400.000 (LUAR BINASA). itulah tak heran banyak trit yang muncul kayak di KASKUS yang nunjukin potret pengemis abal2 yag pura-pura kakinya diamputasi padahal ditanem ditanah, trus ternyata pas pulang bawa mobil sedan bo!!! (cari sendiri tritnya. aku lupa alamatnya. hahaha –‘) buat ngingetin kita kalo banyak diantara mereka yang karena rasa malas bekerja keras akhirnya menekuni profesi mudah ini demi mendulang rupiah. bahkan banyak diantara mereka yang lebih makmur daripada pekerja kantoran dan memiliki istri lebih dari satu (ceritaan temen, hahaha).

padahal kalo aku pikir, profesi ini sangat jauh dari karakter bangsa kita yang suka bekerja keras n harusnya bekerja keras buat mengelola SDA negara kita. ketika anak-anak yang harusnya bersekolah dan dididik untuk mengemis, mengamen, menggelandang diusia muda dan dikenalkan pada pekerjaan abal-abal yang membuat dia mengenal jalan buat mendapat uang tanpa perlu bersusah payah, mau jadi apa bangsa ini ke depannya? pasti gedenya karena tingkat pendidikan mereka rendah, meski penghasilan mereka gede ngga barokah. hidup foya-foya, maunya gampang dapet duit buruh minta-minta, menciptakan kesemrawutan kota dengan adanya pemandangan yang kurang sedap dipandang mata diarea umum, mengganggu kenyamanan, serta melemahkan mental bangsa. akhirnya, bangsa kita karena generasinya kek gini (meski masih dibilang minoritas, siapa tau kalo ngga diberantas jadi kaum mayoritas n kerjaan tuh GEPENG MEN), menjadi bangsa yang masyarakatnya mau dikasihani orang lain, bangsa lain. akhirnya wilayah kita dijajah sama bangsa lain karena keterampilan SDM kita kurang banget gara2 fenomena GEPENG MEN ini.

KASUS

oya aku baru keingetan, kan kalau belanja di salah satu depstore di kabupaten aku, suka ada tuh pengemis bapak-bapak sama ibi-ibu di depan depstore-nya. awalnya aku mikir: YANG BAPAK2 KAKINYA BUNTUNG, GA BISA JALAN. YANG IBU2 UDAH TUA. taunya, kemaren2 (masih maret ini abis belanja), pas jajan di salah satu tempat makan cepat saji depan depstore, aku diem2 merhatiin obrolan si bapak2nya sama salah satu pengunjung yang mungkin udah kenal beliau (wallahu alam). ternyata kakinya ADA DAN DILIPETIN! masya allah wallahu alam….. aku kira beliau buntung dan ga bisa jalan. tapi ya… masalah kaki ga lengkap aku salah duga –‘. tapi masalah beliau bisa jalan apa kagak aku ga mastiin lebih jauh… aku ngga tau. ya allah,…. emang beneran KUMAHA NIAT ngasih teh :3

Lalu bagaimana solusnya?
dari sumber Kompasiana.com, disebutka bahwa jangan memberikan pengemis recehan atau apapun karena kasihan. kalo saran aku, lihat dulu pengemisnya. kalo yang sering aku temui yang seger buger tubuhnya masih lengkap gada cacat, ga usah dikasih. mereka toh bisa melakukan hal lain selain mengemis. kalo sudah sangat renta, ada cacat permanen yang bikin kita mikir dia ngga bisa melakukan apapun selain menjadi GEPENG MEN, baru aku pikir ada toleransi buat ngasih. atau kita bisa menyalurkan bantuan kita lewat lembaga yang emang sudah tugasnya mengelola sumbangan buat disalurkan ke masyarakat yag secara finansial kurang. nah itu lebih tepat. oya pernah ada pengalaman kek ketika pengemis n pengamen ngelemparin uang koin gara2 cuma dikasih beberapa ratus perak sama pengemis yang mau dibeliin bakso malah milih dikasih duit. heuh~ aya-aya wae. nambah kurang simpati tuh…

trus mungkin kita juga bisa berkontribusi buat mendirikan rumah singgah, dll buat anak2 terlantar da gelandangan kalo kita KAYAAAA BANGEUT sampe2 bisa maraban 7 turunan. akakak…. aku pikir memberikan mereka tempat, pendidikan, keterampilan, jauh lebih baik ketimbang memberikan mereka mentahan duit yang kita ngga tau mau kemana nyangsangnya itu penghasilan sehari2 dibelanjain sang GEPENG MEN.

yah balik lagi.

mungkin kalo kita sebagai yang ngasih mah KUMAHA NIAT. tapi tetep aja. ngasih ngga sesuai dengan kebutuhan, terutama sama GEPENG MEN yang ngga pada tempatnya malah membuat kita seolah-olah berkontribusi dalam mengembang-biakkan profesi mereka. jadi ya, klo kata aku ambil jalan terbaik aja. kita beramal pada organisasi pengelola dan mengawasi penggunaa bantuan kita supaya sampai pada sasaran yang tepat.

wallahu alam bisawab

salam_timberlake

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s