Melatih Anak Mandiri


Bismillah,…

mumpung nganggur, aku sering blogging aja deh. share pengalamanku lewat coretan ketikan keyboard. hehehe… ya, setelah tadi pulang nganter kakak belanja, ada sekelumit cerita yang pengen aku tuangin diblog ini.

karena males momotoran, aku sering ngater belanja kakak aku aangkotan. angkutan umum emang kebilang praktis. tinggal jalan ke pinggir jalan, tanpa diminta pun mereka berhenti sendiri, naik, dan jangan lupa, pas turun kudu bayar. hahaha….

nah, pas pulang di angkot, ada beberapa penumpang, termasuk anak SD, SMP, ibu-ibu sama anaknya yang masih SD, sama ibu-ibu sama anak ceweknya juga (disamping aku, kakak aku sama ponakan aku). nah, yang menarik adalah percakapan anak SD yang kupikir antara kelas 1-2 SD, sama ibunya yang sepanjang jalan aku dengerin baik-baik. kurang lebih gini isi obrolan mereka:

anak: mah,kalo pulang teh bayar angkotnya 3000 ya?
ibu: mahal teuing… 1000 we jang budak leutik mah.
anak: oh, 1000 ya mah? mun ade nyalira berarti mayar 1000?
ibu: nya… emang ludeung (berani) naek angkot sendirian?
anak: dibekelan sabaraha?
ibu: bekel mah 3000, ongkos ngan 1000 ieuh,…
anak: ah, 4000, atawa 5000 we. kan ongkos 1000 mah
ibu: ludeung teu? sok mun maju dianterin, mun uih sendiri. kumaha?
anak: ah ke we ah kelas 3.teu aca ludeung.

(sorry, bahasa blasteran. wahahaha)

nah, menyimak omongan barusan, aku jadi mikir. mungkin si ibunya pengen anaknya mandiri kali ya (disamping kalo kata aku juga mah si ibunya embung cape jemputin si anak. hahaha). disini, proses tawar menawar terjadi. mengajarkan anak buat mandiri. melakukan segala sesuatunya seorang diri buat melatih mental dan kebiasaan dia yang selalu ditemani menjadi bisa bepergian sendiri.

mandiri. mungkin anak bungsu jarang nerima penawaran buat memandirikan diri sendiri. karenanya, anak bungsu cenderung kolokan dan ogoan istilah bekennya. beda sama sulung, yag memang terbiasa hidup sendiri (belum punya saudara mungkin) dan musti bisa survive soalnya ntarnya dia jadi tonggak harapan keluarga. tapi ngga sedikit juga anak bungsu yang mandiri.

balik lagi. di tengah fenomena maraknya kasus culik menculik, aku jadi sedikit khawatir nyimak obrolan tadi. maklum, anak belum berpikir panjang dan masih banyak bahaya dunia luar yang belum bisa dia tangani sendirian manakala ngga ada orang tua yang mendampinginya. tapi aku mikir, jawaban anak tadi logis juga. dia mau pulang sekolah sendiri naik angkot pas kelas 3. mungkin anak juga penuh pertimbangan. selain dia punya banyak pengalaman naik turun angkot, tahu bayar agkot tuh berapa tarifnya, tau turunnya, nyari temen SD yang serute, dll dll. nah, aku mikir lagi. si anak juga di sini diajarkan buat bisa menentukan sikap, mengambil putusan sendiri. apakah dia mau naik angkot sendirian pas pulang atau tetep dijemput ibunya. mikirnya mandiri lagi.

mmm… ternyata banyak aspek yang memerlukan sisi kemandirian kita buat menghadapi hidup. anak diajarkan mandiri. itu bagus. termasuk percakapan ibu tadi di angkot. tapi jangan lupa, sesuai seperti kebanyakan tayangan televisi, harus dan memang membutuhkan bimbingan serta pendampingan orang tua dalam rangka menuju tahap kemandirian anak. tetap harus dikawal dan diberikan masukan.

mungkin itu coretanku hari ini. sesuatu yang berkesan. dan semoga angkot serta angkutan umum di ciamis bersih dari segala tindak kriminal. amin.

salam_timberlake

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s