Konsep Dasar Intensi


Kamus Lengkap Psikologi karya J.P. Chaplin (2004) mendefinisikan intensi (intention) sebagai [1] satu perjuangan guna mencapai satu tujuan; [2] ciri-ciri yang dapat dibedakan dari proses-proses psikologis, yang mencakup referensi atau kaitannya dengan satu objek.

Pengertian pertama menyiratkan bahwa intensi merupakan sesuatu yang disengaja atau disadari, bahkan telah mulai dilakukan. Hal ini dipertegas dalam definisi dari kamus yang sama (Chaplin, 2004) mengenai istilah intentional (intensional), yaitu “menyinggung maksud, pamrih, atau tujuan; dengan maksud tertentu; disadari, atau atas kemauan sendiri”.

Mengacu pada makna asal kata ini, dalam Kamus Inggris-Indonesia susunan Echols dan Shadily (2000) disebutkan, intensi (intent atau intention) berarti maksud, pamrih, atau tujuan. Kata ini memiliki turunan kata sifat intentional (intensional), yang artinya “disengaja” (Echols dan Shadily, 2000).

Dengan kata lain, intensi sama dengan niat untuk melakukan suatu perbuatan. Niat mengandung konotasi bahwa di samping perilaku yang diniatkan itu disadari dan disengaja, perilaku itu pun akan segera dilaksanakan. Jika dikatakan, “Saya berniat untuk salat” (ushallî), pada saat yang sama saya telah mulai melakukan salat.

Pengertian lebih komprehensif tentang intensi diberikan oleh Fishbein dan Ajzen (Fishbein & Ajzen, 1975) yang menyatakan:
We have defined intention as a person’s location on a subjective probability dimension involving a relation between himself and some action. A behavioral intension, therefore, refers to a person’s subjective probability that the will perform some behavior.”

Definisi tersebut, menurut Anwar dkk. (Anwar, Bakar, & Harmaini, 2005) menunjukkan bahwa intensi merupakan probabilitas atau kemungkinan yang bersifat subjektif, yaitu perkiraan seseorang mengenai seberapa besar kemungkinannya untuk melakukan suatu tindakan tertentu. Artinya, mengukur intensi adalah mengukur kemungkinan seseorang dalam melakukan perilaku tertentu.

Selanjutnya, menurut Ajzen dalam teorinya yang disebut theory of planned behavior (dalam Ajzen, 2005), intensi dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu:
1) Sikap terhadap tingkah laku tertentu (attitude toward behavior)
2) Norma subjektif (subjective norm)
3) Persepsi tentang kontrol perilaku (perceived behavior control)

Faktor pertama, sikap terhadap perilaku, adalah penilaian yang bersifat pribadi dari orang yang bersangkutan, menyangkut pengetahuan dan keyakinannya mengenai perilaku tertentu, baik dan buruknya, keuntungan dan manfaatnya.

Norma subjektif mencerminkan pengaruh sosial, yaitu persepsi seseorang terhadap tekanan sosial (masyarakat, orang-orang sekitar) untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tingkah laku. Persepsi tentang kontrol perilaku merupakan persepsi mengenai sulit atau mudahnya seseorang untuk menampilkan tingkah laku tertentu dan diasumsikan merefleksikan pengalaman masa lalu beserta halangan atau rintangan yang diantisipasi.

Dua faktor pertama sudah cukup untuk melahirkan intensi,sebagaimana disebut dalam teori reasoned behavior yang diajukan oleh Fishbein (Fishbein & Ajzen, 1975) sebelum kemudian disempurnakan oleh Ajzen (Ajzen, 2005) lewat teori planned behavior. Faktor ketiga sifatnya memerkuat atau memerlemah intensi. Jika perilaku tersebut dipandang mungkin untuk dilakukan, intensi menguat. Jika perilaku itu dianggap sulit atau tidak mungkin dilakukan, intensi menyurut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s