Pendidikan Berbasis Lingkungan


Definisi Pendidikan Berbasis Lingkungan

Pendidikan berbasis lingkungan pada dasarnya bermakna memakai lingkungan sebagai basis orientasi pendidikan. Lingkungan memiliki dua peran dasar dalam proses pendidikan yakni:

1). lingkungan memberi pembelajaran pada anak didik (educative environment); dan

2). lingkungan harus diperbaiki oleh produk pendidikan (better environment by education).

Lingkungan dalam proses pendidikan harus memperhatikan dua aspek utama lingkungan, yakni:

1). lingkungan sosial-budaya yang isinya adalah sistem nilai, perilaku, dan produk budaya masyarakat; dan

2). lingkungan biofisik yang isinya adalah kondisi tanah air sebagai habitat bangsa Indonesia.

Keseluruhan aspek lingkungan melalui proses pendidikan akan diarahkan menjadi kondisi yang prima dengan standard (baku mutu) yang secara obyektif mampu membawa negeri ini menjadi negeri yang besar dan maju-aman-sejahtera. Pendidikan di negeri ini juga harus mengevaluasi  kondisi lingkungan dari waktu ke waktu yang nyata sekali sedang bergerak menjadi semakin rusak dalam semua dimensinya. Dari analisis kualitas lingkungan Indonesia itulah maka manusia Indonesia sudah harus mulai dibentuk oleh proses pendidikan yang benar dan produk pendidikan semacam itu pulalah yang akan merubah kualitas lingkungan menjadi semakin baik. Proses saling pengaruh mempengaruhi secara timbal balik tersebut akan berjalan berkesinambungan merupakan pusaran spiral bergerak positif menuju kondisi negeri ideal.

Pendidikan berproses mengacu pada arahan baku mutu kondisi lingkungan sosial-budaya dan biofisik ideal dan produk pendidikan itu pula yang membuat keseluruhan lingkungan Indonesia semakin membaik bukan memburuk. Kedua proses tersebut akan terus berjalan berkelanjutan menghantar bangsa Indonesia mencapai titik tertinggi kondisi sosial-budaya dan biofisik Indonesia yang makin sempurna.

 

Lingkungan Sosial-Budaya, Sisi Sistem Nilai Bangsa Ideal

Pendidikan harus mengacu pada kondisi sosial budaya bangsa yang ideal. Dari sisi lingkungan sosial-budaya itu, yang harus diprioritaskan adalah sistem nilai ideal yang akan dibentuk oleh proses pendidikan nasional. Negeri ini berdasar Pancasila yang sila pertamanya adalah Ketuhanan yang Maha Esa. Dari prinsip ini jelas bahwa sistem nilai dasarnya adalah bahwa bangsa Indonesia itu harus menjadi bangsa yang taat dalam agama yang dipeluknya. Maka Nilai dasarnya adalah:

 

  1. Membuat anak didik menjadi warga negara yang Taat dalam ajaran Agama, dengan ukuran operasional yang tegas seperti mau melakukan ritual agama, berakhlak jujur-benar-amanah.
  2. Keutamaan memilki kemampuan sains dan teknologi. Nilai ini membawa arahan agar pendidikan memberi kemampuan pada warga negara agar secepatnya menjadi cerdas dan pintar, yang bentuk operasionalnya antara lain menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan ketrampilan teknologi. Anak didik jangan diproses untuk dijadikan pekerja otot dan penghibur yang di masa depan akan digantikan oleh robot dan komputer. Sebaliknya anak didik sejak dini harus disiapkan menjadi orang cerdas, trampil, berwawasan keilmuan-teknologi luas, kreatif mencipta kerja dan membuat dirinya bisa bekerja serta membuat lapangan kerja untuk orang lain. Sain dan teknologi harus dimiliki dan dikuasai oleh anak didik sehingga pengembangan sekolah lebih diarahkan kepada membangun sekolah untuk peningkatan keilmuan dan ketrampilan teknologi.
  3. Nilai akan pentingnya kebugaran fisik jasmaniah dan kemandirian hidup. Dengan nilai ini maka rakyat Indonesia diproses menuju kepemilikan kondisi bugar dan berjiwa matang untuk berprestasi. Mereka dididik biasa mandiri, mulai dengan cara hidup sederhana namun sehat jasmani-rohani.
  4. Nilai akan pentingnya perilaku berkesadaran sosial, suka menolong orang lain, bukan sikap egosentris dan elitis. Nilai gotong royong adalah nilai luhur bangsa yang sekarang ini kecenderungannya semakin terkikis digantikan oleh nilai baru dari budaya asing yakni hidup hedonis dan egois. Bangsa Indonesia semakin terjerumus pada nilai merusak tersebut padahal ketahanan suatu bangsa terletak pada nilai kegotongroyongan rakyat, saling membantu, saling menolong, saling peduli, dan saling menenggang rasa.

Untuk menumbuhkan nilai mulia seperti ini jelas tidaklah cocok jika ada sekolah elitis yang muridnya hanya anak orang kaya dengan tinggi IQ. Sekolah semacam itu kontra produktif terhadap pembangunan bangsa. Anak didik harus disadarkan sejak dini bahwa banyak temannya yang kondisinya masih kurang mampu, baik dalam hal intelektualitas maupun ekonomis, yang mereka itu spontan harus dibantu dengan segala daya upaya. Jika nilai ini dikembangkan sejak dini oleh proses pendidikan nasional maka tidak akan hadir di negeri ini sekolah yang mengejar kompetensi berstandar internasional dan eksklusif demi kepentingan pemilik modal raksasa.

 

Lingkungan Bio-Fisik, sisi Kondisi Kualitas Habitat Indonesia

Pendidikan berbasis lingkungan harus memberikan kondisi lingkungan yang edukatif bagi warga negara, khususnya para anak didik. Benarkah lingkungan Indonesia sudah mendukung proses pendidikan? Dengan kata lain benarkah lingkungan Indonesia sudah menjadi lingkungan yang edukatif, bukan malah merupakan lingkungan yang merusak pesan pendidikan yang diajarkan di sekolah dan keluarga? Apakah program TV, pentas hiburan, gelanggang olahraga, tempat publik, sebagai bagian dari habitat biofisik sudah memberi suasana edukatif bagi anak didik, bukannya malah menghancurkan nilai-nilai luhur yang diajarkan dalam proses pendidikan formal? Jawabannya sudah bisa ditebak, yakni lingkungan Indonesia amat tidak edukatif bagi pembentukan sistem nilai ideal generasi muda bangsa. Betapa sering program TV nasional sarat adegan kekerasan dan pornografi serta perilaku konyol termasuk kecurangan dan tipudaya. Lihat pula tempat publik seperti di pasar, taman, tempat hiburan, dan semacamnya yang juga dipenuhi poster dan iklan yang tidak mendidik. Suasana lingkungan biofisik Indonesia yang cenderung membawa masyarakat untuk tidak peduli pada ajaran agama juga semakin menonjol. Begitu juga perilaku pejabat negara dan daerah serta pola hidup orang kaya yang tidak memberi teladan positif bagi proses pendidikan. Perilaku korup, mengumbar nafsu, egosentris, pamer kekayaan, dan bahkan eksploitatif pada bawahan serta bergaya hidup bermegah-bermewah-pesolek, apakah bisa berperan sebagai habitat edukatif pada ‘anak didik’? Keteladan pejabat dan orang kaya di negeri ini masih amat lemah sehingga akan terjadi proses netralisasi atau bahkan perusakan kualitas anak didik di ‘malam hari’ setelah mereka memperoleh bekal materi bagus di sekolah pada  ‘siang harinya’. Sisi lain dari pendidikan berbasis lingkungan adalah perlunya anak didik sudah dibiasakan memiliki kesadaran perbaikan lingkungan hidupnya. Sekolah harus memberi pendidikan dan pelatihan pada anak didik agar mereka peka lingkungan sekitar dan proaktif bersemangat tinggi membenahi kondisi lingkungan yang berpotensi merusak tatanan kehidupan bermasyarakat-berbangsa-bernegara. Mereka sejak dini perlu dilatih agar kritis menilai kualitas lingkungan di mana mereka hidup dan tinggal, lingkup manapun (keluarga, sekolah, pekerjaan, kampung, kota, dan negerinya) dan berupaya untuk membenahi kekurangannya.

 

Untuk bisa membangun sistem pendidikan berbasis lingkungan seperti yang diuraikan di atas amatlah diperlukan pembenahan kurikulum, kualitas pengajar yang mendukung, serta penataan lingkungan mikro di sekolah dan lingkungan makronya di habitat luas negeri ini. Proses pembenahan ke arah itu memerlukan peran aktif Presiden dan DPR yang  harus bertindak tegas terarah secara benar, tidaklah cukup jika hanya mengharapkan perubahan melalui  kebijakan di tingkat Menteri Pendidikan Nasional saja. Berbagai sektor yang jelas terkait dengan pembenahan lingkungan hidup ini harus dilibatkan, seperti departemen agama, ekonomi, kepolisian-kejaksaan-peradilan, dan media masa cetak maupun elektronik. Pembenahan di berbagai lapangan tugas di atas harus segera diintensifkan secara maksimal untuk mengatasi ketertinggalan yang telah terjadi selama ini.

 

Kebijakan Sekolah Peduli Lingkungan

Sehubungan dengan pengelolaan lingkungan hidup, paling tidak ada 2 aspek yang perlu diperhatikan yaitu infrastruktur sekolah dan kultur sekolah. Pertama, infrastruktur sekolah meliputi konstruksi bangunan yang berventilasi, jalan, listrik dan daya penerangan, telepon/fax, sumber dan instalasi air bersih, sarangan dan sarana pembuangan air limbah. Kedua, kultur sekolah, antara lain ;

 

  • Menerapkan 7 K yaitu kebersihan, keindahan, kenyamanan, ketertiban, kerindangan, kesehatan dan keamanan
  • Memiliki budaya yang ramah dan santun dengan nuansa kekeluargaan
  • Melaksanakan trias UKS (penyelenggaraan pendidikan kesehatan, penyelenggaraan pelayanan kesahatan dan pembinaan lingkungan kehidupan sekolah)
  • Memenuhi standar sekolah sehat

Untuk mewujudkan sekolah peduli lingkungan, maka diperlukan partisipasi seluruh komponen dan stakeholders pendidikan untuk bersama-sama berikhtiar dan berkampanye peduli lingkungan hidup. Dimulai dari aspek ontology (keberadaan) sekolah yang sehat, epistemologis (bagaimana manajemen pengelolaan sekolah berbasis lingkungan hidup) dan aksiologis (kegunaan) lingkungan sekolah sebagai ruang belajar yang bertujuan untuk membangun kesadaran manusia berperilaku sehat dan peduli lingkungan hidup.

 

Manajemen Lingkungan Hidup di Sekolah

Sekolah sebagai salah satu ruang pendidikan dan pembelajaran, tentu untuk melakukan upaya sadar dan penyadaran menjadi manusia seutuhnya, yang berakhlak mulia/beradab dan berbudaya, manusia yang berarti/berguna atau bermakna. Proses penyadaran tersebut memerlukan prakondisi lingkungan yang kondusif bagi kesehatan baik secara lahiriah maupun batiniah.

Secara lahiriah berarti adanya sanitasi lingkungan yaitu usaha kesehatan masyarakat yang menitik beratkan pada penguasaan terhadap berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan. Sarana sanitasi antara lain ; ventilasi, suhu, kelembaban, kepadatan hunian, penerangan alami, konstruksi bangunan, sarangan pembuangan, sarana pembuangan kotoran manusia dan penyediaan air bersih (Azwar, 1990) . Dan secara batiniah dapat diukur dengan aspek perilaku peduli lingkungan sehingga diperoleh suasana kenyamanan dalam melakukan proses pendidikan dan pembelajaran.

Derajat kesehatan berkaitan erat dengan hubungan timbal balik antara pembangunan ekologi, sosial dan ekonomi. Untuk itu perlu dikembangkan parameter, metode analisis dan sistem monitoring dampak kesekatan akibat pencemaran air. Penyediaan air bersih, sarana dan sarangan pembuangan air limbah merupakan sarana prasarana penting yang memerlukan standar kesehatan untuk menghindari pencemaran, penyakit dan bahan beracun/berbahaya.

Oleh karena itu, sanitasi di lingkungan sekolah perlu dipantau dan dikendalikan sedemikian rupa sesuai dengan manajemen pengelolaan yang memadai yaitu dengan teknologi pengelolaan air limbah sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Dan untuk melakukan pemantauan atau pengendalian dampak kegiatan, produk dan jasa aspek-aspek lingkungan dalam penerapan manajemen lingkungan hidup di sekolah, maka paling tidak ada 2 (dua) sistem manajemen lingkungan hidup yang perlu diperhatikan dengan seksama yaitu manajemen strategi pengelolaan lingkungan hidup dan manajemen personalianya.

Manajemen strategi pengelolaan lingkungan hidup meliputi kegiatan, produk dan jasa aspek-aspek lingkungan yang berkaitan dengan tujuan, sasaran, program, indikator, pengendalian operasional, pemantauan dan pengukuran. Sedangkan contoh sederhana struktur personalia dalam manajemen lingkungan hidup di sekolah adalah sebagai berikut:

 

  1. Dewan Penasehat
  2. Dewan Pembina
  3. Penanggung Jawab Pendidikan Lingkungan Hidup
  4. Koordinator Pelaksana Pendidikan Lingkungan Hidup
  5. Divisi – divisi
  • Divisi teknisi dan instalasi
  • Divisi diklat dan perbaikan mutu lingkungan
  • Divisi data informasi dan dokumentasi
  • Divisi riset dan teknologi
  • Divisi pembiayaan dan pemberdayaan ekonomi

 

3 thoughts on “Pendidikan Berbasis Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s