to be continue


ada kalanya orangharus berbag i. itu juga yang sering aku alami. aku tak bisa membagi kesedihan, aku tak bisa membagi makna kehidupan dengan mereka yang tulus menyayangiku, dan mereka yang tak bisa kumaafkan sampai ajal menjemput. aku memang egois…

2004

dia sahabatku. teman baikku. teman guyonan saat aku ingin tertawa dan membutuhkan dukungan. tapi aku malah menghancurkan semuanya. entah kekuatan dari mana aku bisa mengendalikan keadaan; meski begitu persahabatan tak bisa lagi seperti semula. kuyakinkan kalau aku memaafkannya, tapi aku tak bisa bertegur sapa seperti biasa. karena aku masih marah pada kecerobohan emosiku. mungkin jika waktu dapat diputar, aku tak bakal bertingkah seegois itu. dia memang salah, tapi aku yang keterlaluan menegurnya. aku memaafkannya, dia memaafkanku. hanya saja dalam diam. dalam kebisuan yang tak mampu mencair meski terpisah jarak dan ruang. sampai dia, almarhum meninggal pun aku tak tahu harus berbuat apa. kecewa, iya. marah, iya… aku tak sempat memintamaaf pada kesalahanku. aku tak sempat memberikan penghormatan terakhir. tinggal urusanku dengan sang Khalik. kiranya, meski tanpa terucap,… aku ingin meminta maaf sedalam-dalamnya, setulusnya, dan semenyesal apapun tak bakal mampu mengembalikan jasadnya yang lengkap bersama ruhnya untuk kuajak berbicara sekedar mengucap MAAF.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s